If you're still confused whether you should buy a JR Pass to go around Japan on you holiday, you're not alone. Many first timers to Japan only know about the nationwide JR Pass that cost quite a lot. BUT, if you only travel to certain areas, there's some train passes that's cheaper and maybe more suited to your trip. This time we will only cover the passes for the main island of Japan that is served by 2 companies, JR East Trains and JR West Trains.
Sabtu, 09 Februari 2019
Sabtu, 01 Desember 2018
Highway Bus dari stasiun Akihabara
Buat yang
lagi nyusun jadwal ke Jepang dan
cari-cari bus malam buat ke kota lain demi penghematan anggaran, ini ada
beberapa jadwal bus yang ditempel di salah satu halte di terminal bus Akihabara
(Tokyo). Lokasinya tidak jauh dari stasiun JR Akihabara. Kemarin saya naik
Limousine Bus ke Bandara Haneda, dan bayar di halte berikut (Tokyo City Air
Terminal). Di halte Akihabara tidak ada petugasnya sama sekali. Jadi sepertinya
memang bayar langsung ke sopir (kecuali Willer mungkin, karena biasanya dia
harus pesan via webnya). Pokoknya kita tinggal duduk manis, nanti bus akan
datang sesuai jadwal yang tertera. Ada beberapa jadwal yang saya nggak bisa bacanya 😔 Mudah2an ada pembaca blog ini yang bisa membantu mengartikan 😉
Minggu, 04 November 2018
Hemat pakai Pass di Jepang
Sore, mau berbagi tips saja tentang cara memaksimalkan penggunaan JR Pass. Kali ini saya menggunakan contoh JR East Tohoku Pass disingkat JRET biar gampang (wilayah cakupan kira-kira Tokyo sampai Aomori). Bedanya dengan JR Pass biasa, JRET tidak harus dipakai secara berurutan. Kita bisa menggunakan JRET selama 5 hari tidak berurutan, asalkan masih dalam jangka waktu 14 hari. Contoh: kita aktifkan di H1, tapi dipakai pada H3, H4, H8, H10, dan H13. Nanti pada pemakaian pertama di hari itu, pihak stasiun akan mengecap Pass kita sehingga kita tahu masih berapa hari lagi yang bisa kita pakai.
Rabu, 26 September 2018
Tokyo Sky Hop Bus
Buat yang mau ajak orang tua jalan-jalan ke Tokyo, ini ada opsi yang lebih nyaman buat mereka (soalnya nggak perlu naik-turun tangga) Tokyo Sky Hop Bus
Kita bisa naik-turun bus ini di halte Sky Hop, dan tiket berlaku 24 jam. Contoh: misalnya kita mulai naik hari ini jam 2 siang, besoknya kita masih bisa naik lagi sampai jam 2 siang.
Bus ini punya 3 rute, dan hanya dengan 1 tiket kita bisa menjelajah semua rutenya. Nilai plus lainnya, kita bisa mendengar keterangan tempat2 yang dilalui dalam bahasa Inggris. Asyik kan!
Rute Sky Hop Bus:
1. Asakusa - Tokyo Skytree Line: Tokyo Skytree - Asakusa - Ueno - Akihabara - Nihonbashi - Marunouchi
2. Odaiba Line: Tokyo Tower - Odaiba - Ariake - Toyosu - Tsukiji & Ginza - Marunouchi
3. Roppongi - Tokyo Tower Line: Roppongi - Tokyo Tower - Marunouchi
Jam operasional bus: 9:30am - 7:30pm (tergantung rute)
Kita bisa naik-turun bus ini di halte Sky Hop, dan tiket berlaku 24 jam. Contoh: misalnya kita mulai naik hari ini jam 2 siang, besoknya kita masih bisa naik lagi sampai jam 2 siang.
Bus ini punya 3 rute, dan hanya dengan 1 tiket kita bisa menjelajah semua rutenya. Nilai plus lainnya, kita bisa mendengar keterangan tempat2 yang dilalui dalam bahasa Inggris. Asyik kan!
Rute Sky Hop Bus:
1. Asakusa - Tokyo Skytree Line: Tokyo Skytree - Asakusa - Ueno - Akihabara - Nihonbashi - Marunouchi
2. Odaiba Line: Tokyo Tower - Odaiba - Ariake - Toyosu - Tsukiji & Ginza - Marunouchi
3. Roppongi - Tokyo Tower Line: Roppongi - Tokyo Tower - Marunouchi
Jam operasional bus: 9:30am - 7:30pm (tergantung rute)
![]() |
| Peta Rute Tokyo Sky Hop BIRU: Asakusa-Tokyo Skytree HIJAU: Odaiba UNGU: Roppongi-Odaiba |
Sabtu, 22 September 2018
Tutorial Pemesanan Tiket Kursi Kereta Limited Express/Shinkansen
Halo semuanya, kebetulan nemu website yang ternyata bisa dipakai untuk reserve seat di sebagian besar kereta limited express atau shinkansen di Jepang. Pengen tahu caranya? Yuk baca terus... 😄
Ini bentuknya tutorial dengan gambar, supaya gampang dimengerti. Jadi harap maklum kalo loadingnya agak lama ya.
Pertama-tama buka websitenya: https://www.eki-net.com/pc/jreast-shinkansen-reservation/English/wb/common/Menu/Menu.aspx
Senin, 11 Desember 2017
Kawagoe dan Chichibu Yomatsuri
Bakal rada panjang nih postingannya.... Yang sabar ya bacanya 😄
Kebetulan banget kemaren pas pergi ke Jepang waktunya berbarengan dengan Chichibu Yomatsuri alias Chichibu Night Festival. Ini salah satu dari 3 festival terbesar di Jepang yang mengadakan arak-arakan floats. (lengkapnya di sini)
Begitu tahu info ini, langsung pengen datang ke sana, mengingat salah satu bucketlist saya adalah menghadiri matsuri alias festival di Jepang. Tapi begitu lihat biayanya... sempet galau juga. Biaya sekali jalan ke Chichibu 1650 yen pake kereta biasa, berarti PP 3300 yen. Kalo pake yang express musti nambah lagi 700 yen sekali jalan. Padahal karena festivalnya malam, rencana siang harinya mau mampir dulu ke Kawagoe, yang masih satu daerah dengan Chichibu, yaitu di perfektur Saitama.
Kebetulan banget kemaren pas pergi ke Jepang waktunya berbarengan dengan Chichibu Yomatsuri alias Chichibu Night Festival. Ini salah satu dari 3 festival terbesar di Jepang yang mengadakan arak-arakan floats. (lengkapnya di sini)
Begitu tahu info ini, langsung pengen datang ke sana, mengingat salah satu bucketlist saya adalah menghadiri matsuri alias festival di Jepang. Tapi begitu lihat biayanya... sempet galau juga. Biaya sekali jalan ke Chichibu 1650 yen pake kereta biasa, berarti PP 3300 yen. Kalo pake yang express musti nambah lagi 700 yen sekali jalan. Padahal karena festivalnya malam, rencana siang harinya mau mampir dulu ke Kawagoe, yang masih satu daerah dengan Chichibu, yaitu di perfektur Saitama.
Review Tokyo Owl Hotel
Holaaa, mau berbagi pengalaman menginap di Hotel Owl Tokyo. Lokasinya dekat Stasiun Nippori (kurleb 4-5 menit jalan kaki santai). Di stasiunnya pun enak, ada eskalator dan lift... asal jangan salah pilih exit. Yang ada eskalator dan lift itu East Exit. Ancer2nya cari arah buat transit ke Nippori-Toneri Liner, karena di dekat situ lokasinya. Jalanan ke hotel pun datar terus, nggak pake naik-turun. Nggak merepotkan pas lagi bawa2 koper.
Nilai plus hotel:
1. Lokasi cukup dekat dengan stasiun Nippori.
2. Resepsionis 24 jam dan fasih berbahasa Inggris.
3. Bisa titip koper sebelum cek in/setelah cek out. Bahkan kalau mau pesan barang bisa dikirim ke hotel. Mereka mau menyimpankan.
4. Ada lift! (penting ini buat yang bawa koper besar kayak saya kemaren)
5. Disediakan mesin cuci dan pengering berbayar (mesin cuci 300 yen sekali pakai, mesin pengering 100 yen untuk 30 menit). Lokasi di lantai 4.
6. Di ruang bersama disediakan 2 komputer yang bisa kita pakai dengan gratis (untuk print biayanya 10 yen per lembar) plus minuman panas/dingin gratis (ada jus apel, air putih, kopi, teh, dan teh hijau).
1. Lokasi cukup dekat dengan stasiun Nippori.
2. Resepsionis 24 jam dan fasih berbahasa Inggris.
3. Bisa titip koper sebelum cek in/setelah cek out. Bahkan kalau mau pesan barang bisa dikirim ke hotel. Mereka mau menyimpankan.
4. Ada lift! (penting ini buat yang bawa koper besar kayak saya kemaren)
5. Disediakan mesin cuci dan pengering berbayar (mesin cuci 300 yen sekali pakai, mesin pengering 100 yen untuk 30 menit). Lokasi di lantai 4.
6. Di ruang bersama disediakan 2 komputer yang bisa kita pakai dengan gratis (untuk print biayanya 10 yen per lembar) plus minuman panas/dingin gratis (ada jus apel, air putih, kopi, teh, dan teh hijau).
Nilai minusnya:
1. Tidak ada dapur untuk masak. Hanya disediakan microwave.
2. Ruang makan jadi satu dengan lobby di lantai dasar.
3. Seprai tidak diganti selama menginap di sana (kemarin saya menginap 8 hari di situ). Mungkin kalau minta bisa.
4. Setiap kali keluar dari hotel pagi2, kita harus menyerahkan kartu check in ke resepsionis. Nanti begitu pulang kita minta lagi kartunya. Di kartu itu ada kombinasi kunci pintu kamar, makanya tidak boleh dibawa pergi.
5. Semua kamar tipenya dormitory, tidak ada private room.
1. Tidak ada dapur untuk masak. Hanya disediakan microwave.
2. Ruang makan jadi satu dengan lobby di lantai dasar.
3. Seprai tidak diganti selama menginap di sana (kemarin saya menginap 8 hari di situ). Mungkin kalau minta bisa.
4. Setiap kali keluar dari hotel pagi2, kita harus menyerahkan kartu check in ke resepsionis. Nanti begitu pulang kita minta lagi kartunya. Di kartu itu ada kombinasi kunci pintu kamar, makanya tidak boleh dibawa pergi.
5. Semua kamar tipenya dormitory, tidak ada private room.
Tapi yang paling berkesan buat saya selama menginap di sana adalah ketika salah satu resepsionis (bapak-bapak) yang membantu membuatkan reservasi kereta express supaya saya bisa melihat Chichibu Yomatsuri sampai selesai. (Soal ini nanti saya post terpisah).
Buat yang mendarat/pulang dari Bandara Narita, lokasinya strategis karena ada kereta langsung ke bandara. Keretanya ada 2 macam: Keisei Main Line (1030 yen sekali jalan, waktu tempuh sekitar 75 menit, bisa bayar pake Pasmo/Suica/dkk) dan Keisei Skyliner (2470 yen sekali jalan, waktu tempuh sekitar 40 menit). Semua tidak dicover JR Pass ataupun sodara2nya.
Kamis, 15 Juni 2017
Review Hotel Sakura
Location: https://goo.gl/maps/VZYnhReiXJw
PLUS:
1.
Sangat
dekat dengan stasiun subway (st. Tanimachi Sanchome). Jalan kaki santai hanya 3
menit, dan ada lift. Kalau naik Willer bus dari Tokyo ke Osaka, saya waktu itu
turun di Willer Bus Terminal Umeda, naik kereta Midosuji Line dari stasiun
Umeda ke stasiun Namba, lalu pindah naik Sennichimae Line ke st. Tanimachi
Sanchome.
2.
Lokasi
cukup strategis. Naik kereta ke Dotonbori/Shinsaibashi hanya sekali naik kereta
Sennichimae Line, lama perjalanan 10 menit. Dengan kereta yang sama juga bisa
sampai Namba (lama perjalanan 14 menit).
3.
Dormitory
ada yang campur, tapi waktu itu saya pilih yang khusus cewek. Di ruang tidur
ada toilet dan meja rias (lengkap dengan hairdryer). Handuk tidak disediakan.
4.
Resepsionis
tidak 24 jam, tapi kalau kita mau check out pagi-pagi sekali, bisa bilang ke
mereka supaya nanti ada yang jaga ketika kita mengembalikan kunci kamar.
5.
Ada
lift juga di hostel ini ^^ Dan ada petunjuk arah ke tempat-tempat wisata di
Osaka.
MINUS:
1.
Sedikit
sekali tempat makan dan mini market di dekat hotel. Kebanyakan gedung
perkantoran. Kalau mau cari makan lebih baik ke Namba/Dotonbori.
2.
Tidak
ada tempat khusus untuk menaruh koper, jadi ruangan agak sempit dan penuh.
3.
Locker
dengan kunci yang disediakan kecil sekali ukurannya.
4.
Tidak
menyediakan sarapan.
Review Grids Nihombashi East Hotel + Hostel
PLUS:
1. Lokasi
sangat dekat dengan stasiun subway (Higashi-Nihombashi dan Bakuroyokoyama).
Jalan kaki santai cuma 3 menit. Untuk ke pintu yang ada lift-nya sekitar 6
menit.
2. Dari st. Higashi-Nihombashi kita bisa naik kereta yang
langsung ke bandara Haneda dan Narita (hanya di jam-jam tertentu)
3. Resepsionis buka 24 jam dan fasih berbahasa Inggris. Mereka juga sangat ramah dan siap
membantu.
4. Walaupun kita
pilih di dormitory, kamar dibedakan antara cowok dan cewek (beda lantai). Tidak
ada yang campur. Kamar mandi pun beda lantai antara cowok dan cewek.
5. Ada toilet (4
bilik), meja rias (lengkap dengan hair dryer), dan locker dengan kunci
kombinasi untuk menyimpan barang berharga. Di dalam locker juga tersedia handuk
mandi besar untuk kita gunakan tanpa bayar lagi. Semua ini ada di dalam ruang
tidur, jadi nggak perlu repot naik-turun lift hanya untuk ke toilet ^^
6. Koper bisa
ditaruh di tempat khusus sehingga tidak mengganggu tamu lain. Ada 2 atau 3
tempat koper di setiap lantai.
7. Ada lift
(penting ini buat yang bawa koper berat ^^) dan koper bisa dititipkan di
resepsionis, gratis.
8. Ada ruang makan
bersama. Tersedia microwave dan alat makan. Kita juga bisa menyimpan makanan
kita di kulkas bersama. Jangan lupa kasih nama dan nomor bed supaya tidak
tertukar sama punya orang lain. Ada TV juga di sana, jadi bisa makan sambil
nonton ^^ Jangan lupa juga membersihkan meja dan membuang sampahnya.
9. Ada vending
maching minuman di ruang makan.
10. Ada mesin
cuci dan pengering (bayar lagi)
MINUS:
1.
Hanya
ada 1 mini market di dekat hostel (Family Mart).
2.
Sekelilingnya
kebanyakan kantor/toko. Jadi jika pilihan di Family Mart tidak ada yang sreg,
lebih baik makan di luar atau beli bekal untuk sarapan di tempat lain, karena hostel tidak menyediakan sarapan.
3.
Kita
harus mengganti sepatu dengan sandal kamar yang telah disediakan. Dilarang
masuk ke kamar tidur memakai sepatu.
4.
Satu
kamar berisi sekitar 20 bed, jadi ada kemungkinan agak ramai ketika ada banyak orang
yang menginap.
5.
Dilarang
packing koper di ruang dorm pada malam hari. Kita bisa menggunakan ruang locker
untuk packing, karena ada pintunya, jadi tidak mengganggu orang lain.
Jumat, 20 Januari 2017
Mau ke sana, naik kereta apa ya?
Hal kedua yang paling sering bikin jiper orang yang baru pertama kali ke Jepang adalah masalah transportasi umum, terutama kereta. Boleh dibilang di seantero Jepang, jaringan kereta sudah masuk hingga ke kota kecil, sehingga itu menjadi moda transportasi paling praktis untuk bepergian. Masalahnya, terkadang saking banyaknya jalur kereta yang ada di satu kota malah bikin kita bingung memilih kereta sewaktu memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.
Jika menggunakan pocket wi-fi atau tourist SIM card, tentu Anda tinggal membuka aplikasi di ponsel pintar, memasukkan stasiun awal dan tujuan, lalu langsung keluar rute yang perlu Anda naiki. Tulisan ini hanya sebagai pegangan jika sewaktu-waktu Anda tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut dan harus membaca peta jaringan kereta secara manual.
Jika menggunakan pocket wi-fi atau tourist SIM card, tentu Anda tinggal membuka aplikasi di ponsel pintar, memasukkan stasiun awal dan tujuan, lalu langsung keluar rute yang perlu Anda naiki. Tulisan ini hanya sebagai pegangan jika sewaktu-waktu Anda tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut dan harus membaca peta jaringan kereta secara manual.
Enaknya pakai Pass apa ya?
Itu salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh orang-orang yang baru mau jalan-jalan ke Jepang. Satunya lagi adalah soal baca peta rute kereta Jepang (terutama Tokyo) yang mirip benang kusut. Tapi sekarang kita akan membahas berbagai pass yang dikhususkan bagi turis yang berkunjung ke Jepang.
Secara umum, perusahaan kereta milik pemerintah Jepang (yang kemudian diprivatisasi) yang menguasai jalur kereta di seluruh wilayah Jepang, yang bernaung di bawah perusahaan JR (Japan Railways) Group. JR Group itu sendiri terbagi atas 6 perusahaan yaitu: JR Kyushu, JR Shikoku, JR West, JR Central, JR East, dan JR Hokkaido. Masing-masing perusahaan memiliki pass untuk turis di wilayahnya, namun ada satu pass sakti yang berlaku di seluruh wilayah Jepang, yang dinamakan JR Pass.
Secara umum, perusahaan kereta milik pemerintah Jepang (yang kemudian diprivatisasi) yang menguasai jalur kereta di seluruh wilayah Jepang, yang bernaung di bawah perusahaan JR (Japan Railways) Group. JR Group itu sendiri terbagi atas 6 perusahaan yaitu: JR Kyushu, JR Shikoku, JR West, JR Central, JR East, dan JR Hokkaido. Masing-masing perusahaan memiliki pass untuk turis di wilayahnya, namun ada satu pass sakti yang berlaku di seluruh wilayah Jepang, yang dinamakan JR Pass.
Hello again, Japan!
Halooo,
udah rada lama sejak postingan terakhir ya ^^ Mau cerita aja kemarin saya pergi ke Jepang lumayan lama, dari berangkat sampai mendarat di Jakarta lagi totalnya 24 hari. Kenapa lama sekali? Pertama, karena ada kerjaan yang mengharuskan saya pergi ke Jepang selama 12 hari, sisa 12 harinya baru saya pakai untuk jalan-jalan 😁 Dan karena saya pergi ke beberapa kota, postingannya juga akan ditulis dalam beberapa bagian, supaya nggak kepanjangan.
Pertama, soal bawaan. Ini penting banget, mengingat saya perginya pas musim dingin, yang notabene harus bawa ini-itu biar nggak beku pas di sana. Mengingat di sana bakal menginap di hostel maupun apartemen yang menyediakan mesin cuci, maka saya hanya membawa baju 7 set (1 set = kaos kaki, baju dalam, longjohn, celana panjang, baju tangan panjang), perlengkapan musim dingin (winter jacket, syal wool, kupluk tebal, sarung tangan), plus 2 stel baju tidur dan 2 sweter. Karena selama di sana nggak keringetan, longjohn dan baju luar bisa dipake buat 2 hari, makanya saya cuci baju cuma seminggu sekali.
Oh iya, untuk mesin cuci di hostel kebanyakan bayar ya. Mesin cuci-nya 200 yen sekali pakai (deterjen bawa sendiri. kalau tidak butuh banyak, bisa cari di mini market, ada yang 1 dus isinya cuma 5 sachet), sementara mesin pengeringnya 100 yen per 30 menit. Jadi kalau baju kita belum kering, dan mau diterusin pengeringnya, ya masukin duit lagi. Untuk baju biasa sih 30 menit udah kering. Tapi kalau bahan tebal semacam jins biasanya minimal 60 menit baru kering.
Perlengkapan lain yang tidak kalah penting ketika jalan-jalan pada musim dingin: sepatu! Karena memang berencana mau jalan ke Sapporo yang amat sangat bersalju, dari Jakarta saya sudah memutuskan untuk memakai sepatu hiking. Pertama karena bahannya dari kulit (supaya kaki tidak kedinginan) dan sepatunya lebih terjamin anti-slip di tempat yang licin. Sedihnya, ketika transit di Kuala Lumpur, sepatu saya lepas solnya 😢 Putar-putar bandara tapi tidak ketemu kios yang bisa memperbaiki sepatu. Akhirnya pakai cara darurat, ikat sol dengan tali sepatu. Nanti ceritanya panjang lagi soal mencari sepatu pengganti di Jepang. Intinya sih saya dan sepatu berhasil mendarat dengan selamat di Narita.
Tips: karena saya paling malas buka koper di bandara, winter jacket saya masukkan saja ke backpack yang saya bawa ke kabin. kalau perlu, jaketnya ditenteng saja, nanti masukkan ke kabin atas di pesawat. Yang penting sudah pakai sepatu dan kaos kaki yang tebal. Begitu sampai di bandara tujuan, awalnya kita nggak merasa terlalu dingin, karena di dalam bandara pasti ada penghangatnya. Kalau benar-benar tidak tahan dingin, siapkan juga longjohn di dalam backpack, supaya begitu selesai lewat imigrasi dan ambil koper, Anda bisa langsung ke kamar mandi untuk memakainya. Kalau masih cukup tahan, pakai winter jacket saja, Karena untuk ke kota kita juga harus naik bus atau kereta yang ada penghangatnya, jadi nggak bakal kedinginan.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya!
udah rada lama sejak postingan terakhir ya ^^ Mau cerita aja kemarin saya pergi ke Jepang lumayan lama, dari berangkat sampai mendarat di Jakarta lagi totalnya 24 hari. Kenapa lama sekali? Pertama, karena ada kerjaan yang mengharuskan saya pergi ke Jepang selama 12 hari, sisa 12 harinya baru saya pakai untuk jalan-jalan 😁 Dan karena saya pergi ke beberapa kota, postingannya juga akan ditulis dalam beberapa bagian, supaya nggak kepanjangan.
Pertama, soal bawaan. Ini penting banget, mengingat saya perginya pas musim dingin, yang notabene harus bawa ini-itu biar nggak beku pas di sana. Mengingat di sana bakal menginap di hostel maupun apartemen yang menyediakan mesin cuci, maka saya hanya membawa baju 7 set (1 set = kaos kaki, baju dalam, longjohn, celana panjang, baju tangan panjang), perlengkapan musim dingin (winter jacket, syal wool, kupluk tebal, sarung tangan), plus 2 stel baju tidur dan 2 sweter. Karena selama di sana nggak keringetan, longjohn dan baju luar bisa dipake buat 2 hari, makanya saya cuci baju cuma seminggu sekali.
Oh iya, untuk mesin cuci di hostel kebanyakan bayar ya. Mesin cuci-nya 200 yen sekali pakai (deterjen bawa sendiri. kalau tidak butuh banyak, bisa cari di mini market, ada yang 1 dus isinya cuma 5 sachet), sementara mesin pengeringnya 100 yen per 30 menit. Jadi kalau baju kita belum kering, dan mau diterusin pengeringnya, ya masukin duit lagi. Untuk baju biasa sih 30 menit udah kering. Tapi kalau bahan tebal semacam jins biasanya minimal 60 menit baru kering.
Perlengkapan lain yang tidak kalah penting ketika jalan-jalan pada musim dingin: sepatu! Karena memang berencana mau jalan ke Sapporo yang amat sangat bersalju, dari Jakarta saya sudah memutuskan untuk memakai sepatu hiking. Pertama karena bahannya dari kulit (supaya kaki tidak kedinginan) dan sepatunya lebih terjamin anti-slip di tempat yang licin. Sedihnya, ketika transit di Kuala Lumpur, sepatu saya lepas solnya 😢 Putar-putar bandara tapi tidak ketemu kios yang bisa memperbaiki sepatu. Akhirnya pakai cara darurat, ikat sol dengan tali sepatu. Nanti ceritanya panjang lagi soal mencari sepatu pengganti di Jepang. Intinya sih saya dan sepatu berhasil mendarat dengan selamat di Narita.
Tips: karena saya paling malas buka koper di bandara, winter jacket saya masukkan saja ke backpack yang saya bawa ke kabin. kalau perlu, jaketnya ditenteng saja, nanti masukkan ke kabin atas di pesawat. Yang penting sudah pakai sepatu dan kaos kaki yang tebal. Begitu sampai di bandara tujuan, awalnya kita nggak merasa terlalu dingin, karena di dalam bandara pasti ada penghangatnya. Kalau benar-benar tidak tahan dingin, siapkan juga longjohn di dalam backpack, supaya begitu selesai lewat imigrasi dan ambil koper, Anda bisa langsung ke kamar mandi untuk memakainya. Kalau masih cukup tahan, pakai winter jacket saja, Karena untuk ke kota kita juga harus naik bus atau kereta yang ada penghangatnya, jadi nggak bakal kedinginan.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya ya!
Sabtu, 26 November 2016
JR Pass akan dijual di Jepang
Sepertinya untuk mengantisipasi lonjakan turis yang akan datang ke Jepang menjelang Olimpiade Tokyo 2020, pemerintah Jepang berencana memulai masa percobaan penjualan JR Pass di dalam Jepang. Selama ini, JR Pass hanya bisa dibeli di luar Jepang, lalu ditukarkan di sana.
Tapi setelah lihat harganya, bedanya lumayan juga. Untuk perbandingan: JR Pass 7 days ordinary type untuk dewasa jika beli di Indonesia harganya 29.110 yen, sementara kalau beli di Jepang jadi 33.000 yen. Lumayan itu selisihnya buat jajan atau beli oleh-oleh ^^
-Masa penjualan : March 8, 2017 ‒ March 31, 2018
-Masa penggunaan :
7-day PASS March 8, 2017 ‒April 6, 2018
14-day PASS March 8, 2017 ‒April 13, 2018
21-day PASS March 8, 2017 ‒April 20, 2018
7-day PASS March 8, 2017 ‒April 6, 2018
14-day PASS March 8, 2017 ‒April 13, 2018
21-day PASS March 8, 2017 ‒April 20, 2018
Type: Green-type
Adult
7-day 44,000 yen
14-day 71,000 yen
21-day 90,000 yen
Adult
7-day 44,000 yen
14-day 71,000 yen
21-day 90,000 yen
Child
7-day 22,000 yen
14-day 35,500 yen
21-day 45,000 yen
7-day 22,000 yen
14-day 35,500 yen
21-day 45,000 yen
Type: Ordinary-type
Adult
7-day 33,000 yen
14-day 52,000 yen
21-day 65,000 yen
Adult
7-day 33,000 yen
14-day 52,000 yen
21-day 65,000 yen
Child
7-day 16,500 yen
14-day 26,000 yen
21-day 32,500 yen
7-day 16,500 yen
14-day 26,000 yen
21-day 32,500 yen
Tempat penjualan: Sapporo, Sendai, Niigata, Tokyo, Shinjuku, Yokohama, Nagoya,
Osaka, Hiroshima, Takamatsu, Hakata, New-Chitose Airport, Narita Airport Terminal 1,
Narita Airport Terminal 2-3, Haneda Airport International Terminal, and Kansai Airport
Osaka, Hiroshima, Takamatsu, Hakata, New-Chitose Airport, Narita Airport Terminal 1,
Narita Airport Terminal 2-3, Haneda Airport International Terminal, and Kansai Airport
Untuk lengkapnya silakan baca di http://www.japanrailpass.net/file/trial_basis_en.pdf.
Selasa, 16 Agustus 2016
My First Note!
Hari ini saya baru saja pulang dari Jepang. Pengalaman perdana saya solo trip ke sana! Saya sudah beberapa kali pergi ke sana, tapi yang ini beda rasanya. Saya beli/bayar tiket hanya 3 minggu sebelum tanggal keberangkatan, dan menunggu kabar visa Jepang dengan dagdigdug selama 2 minggu. Beneran nggak enak makan-tidur pas nunggu kabarnya. Mau siap-siap juga ragu, takutnya udah seneng-seneng ternyata visanya nggak tembus. Selain bayar tiket, saya cuma booking hotel. Lainnya baru dikerjakan setelah visa jadi. Dan akhirnya kabar gembira itu datang juga, hanya seminggu sebelum tanggal keberangkatan. Legaaaaaa banget rasanya. Biarpun musti buru-buru nyiapin segala itinerary dkk, yang penting saya udah pasti berangkat! Seneng bangeeeet.
Catatan penting karena trip ini saya sendirian, teman-teman menyarankan supaya saya beli SIM card di sana, supaya gampang menghubungi/dihubungi oleh mereka. Setelah cari-cari info dan membanding-bandingkan harga. akhirnya sudah menetapkan pilihan ke SIM prabayar merk A, tapi begitu sampai di sana, nggak ketemu itu barang di bandara. Saya cari ke Lawson dan Family Mart, trus lihat-lihat di vending machine khusus prepaid SIM untuk visitor ke Jepang. Yang sana incer malah nggak ada. Yang ada mahal semua, antara 3000-4000 yen. Eh, ternyata saya beruntung banget pas lagi jalan ke hostel nemu SIM card u-mobile ini di toko elektronik EDION. Jangka waktunya 7 hari, limit harian 200 MB (tapi pas cek penggunaan sehari-hari, saya paling banyak pakai setengahnya), dan yang penting, harganya sesuai harapan, nggak sampai 2000 yen (harganya 1800 yen + pajak). Dan dengan baik hati staf tokonya bilang akan bantuin ganti APN ponsel saya. Waktu itu pilihannya ada micro dan nano SIM. Jadi setelah bayar, staf toko mengeluarkan kartunya tapi melarang saya buat dibuka. Dia suruh saya cek dulu, ukurannya sudah betul apa belum, baru buka segelnya. Baik banget yaaaa. Dia juga bawa semacam brosur panduan untuk setting APN. Nyatanya, begitu ponsel dinyalakan dengan SIM card baru ini, semua sudah berubah sesuai yang diminta. Jadi saya cuma cek apakah username dll-nya sudah sesuai, dan langsung bisa online lagi.
Sinyalnya kencang, walaupun lagi di dalam subway. Providernya pakai jaringan NTT DoCoMo, mungkin itu juga yang bikin sinyal bisa dibilang 99% stabil di mana pun saya berada. Ini bisa jadi opsi buat yang mau jalan-jalan ke Jepang dan tetap eksis di dunia maya ^__^

Today I just got back from Japan and it was my first solo there! Although I've been there many times, but this time it's special because I only booked everything on a rush. I only have about 3 weeks after paying my tickets to prepare for this trip. And spent almost 2 weeks agonizing about my visa. I know that it's almost 100% positive that my visa will be granted, but there's still a niggle of worry that couldn't go away and it made me postpone every preparation except booking the hostel. After I received word that my visa is granted, it felt like a huge weigh have been taken off my mind. The bad news is, I only have a week left to prepare for this trip.
Since I will be going alone this time, my friend suggested for me to buy a local SIM card so it's easier for me to contact my family, vice versa. Unfortunately, visitor SIM card that is sold in Japan is data only. You can't make any calls, unless you're using apps like Whatsapp or LINE. There's so many options available for visitors, so you just have to choose which plan and price fit you the most. I chose a 7 day plan from u-mobile (1800 yen before tax, pictured above) because I will only be in Osaka for 5 days and I mainly need the internet for google maps, browsing, and chatting through Whatsapp and LINE. So that's enough for me. Even though the limit is only 200 MB per day, looking back at the usage history, usually I only use half.
The connection is very good, it uses NTT DoCoMo so I still have a strong signal even in the subway. BUT, beware of using Google Maps underground. It'll lead you around like a drunken donkey. If you're not sure which exit to take (when there are a whole bunch of them), just pick one nearest to you and then go up. You'll get a better signal, and importantly, a more accurate reading of your location. Just remember to bring a powerbank, preferably one that can charge your phone twice in a day, because using G-maps drains your battery really quick.
On a side note, I learned a new thing before leaving for Japan. It turned out that even if you change your SIM card, your number will not change. So you can still contact everyone and they'll know it's you. And I've proved it! Apologies for everyone who have known this tidbit from a long time ago *sigh*
Catatan penting karena trip ini saya sendirian, teman-teman menyarankan supaya saya beli SIM card di sana, supaya gampang menghubungi/dihubungi oleh mereka. Setelah cari-cari info dan membanding-bandingkan harga. akhirnya sudah menetapkan pilihan ke SIM prabayar merk A, tapi begitu sampai di sana, nggak ketemu itu barang di bandara. Saya cari ke Lawson dan Family Mart, trus lihat-lihat di vending machine khusus prepaid SIM untuk visitor ke Jepang. Yang sana incer malah nggak ada. Yang ada mahal semua, antara 3000-4000 yen. Eh, ternyata saya beruntung banget pas lagi jalan ke hostel nemu SIM card u-mobile ini di toko elektronik EDION. Jangka waktunya 7 hari, limit harian 200 MB (tapi pas cek penggunaan sehari-hari, saya paling banyak pakai setengahnya), dan yang penting, harganya sesuai harapan, nggak sampai 2000 yen (harganya 1800 yen + pajak). Dan dengan baik hati staf tokonya bilang akan bantuin ganti APN ponsel saya. Waktu itu pilihannya ada micro dan nano SIM. Jadi setelah bayar, staf toko mengeluarkan kartunya tapi melarang saya buat dibuka. Dia suruh saya cek dulu, ukurannya sudah betul apa belum, baru buka segelnya. Baik banget yaaaa. Dia juga bawa semacam brosur panduan untuk setting APN. Nyatanya, begitu ponsel dinyalakan dengan SIM card baru ini, semua sudah berubah sesuai yang diminta. Jadi saya cuma cek apakah username dll-nya sudah sesuai, dan langsung bisa online lagi.
Sinyalnya kencang, walaupun lagi di dalam subway. Providernya pakai jaringan NTT DoCoMo, mungkin itu juga yang bikin sinyal bisa dibilang 99% stabil di mana pun saya berada. Ini bisa jadi opsi buat yang mau jalan-jalan ke Jepang dan tetap eksis di dunia maya ^__^

Today I just got back from Japan and it was my first solo there! Although I've been there many times, but this time it's special because I only booked everything on a rush. I only have about 3 weeks after paying my tickets to prepare for this trip. And spent almost 2 weeks agonizing about my visa. I know that it's almost 100% positive that my visa will be granted, but there's still a niggle of worry that couldn't go away and it made me postpone every preparation except booking the hostel. After I received word that my visa is granted, it felt like a huge weigh have been taken off my mind. The bad news is, I only have a week left to prepare for this trip.
Since I will be going alone this time, my friend suggested for me to buy a local SIM card so it's easier for me to contact my family, vice versa. Unfortunately, visitor SIM card that is sold in Japan is data only. You can't make any calls, unless you're using apps like Whatsapp or LINE. There's so many options available for visitors, so you just have to choose which plan and price fit you the most. I chose a 7 day plan from u-mobile (1800 yen before tax, pictured above) because I will only be in Osaka for 5 days and I mainly need the internet for google maps, browsing, and chatting through Whatsapp and LINE. So that's enough for me. Even though the limit is only 200 MB per day, looking back at the usage history, usually I only use half.
The connection is very good, it uses NTT DoCoMo so I still have a strong signal even in the subway. BUT, beware of using Google Maps underground. It'll lead you around like a drunken donkey. If you're not sure which exit to take (when there are a whole bunch of them), just pick one nearest to you and then go up. You'll get a better signal, and importantly, a more accurate reading of your location. Just remember to bring a powerbank, preferably one that can charge your phone twice in a day, because using G-maps drains your battery really quick.
On a side note, I learned a new thing before leaving for Japan. It turned out that even if you change your SIM card, your number will not change. So you can still contact everyone and they'll know it's you. And I've proved it! Apologies for everyone who have known this tidbit from a long time ago *sigh*
Langganan:
Postingan (Atom)

